Kamis, 24 November 2016

Menentukan Dan Menggunakan Materialitas



A.       Pengertian Materialitas
Materialitas adalah dasar untuk penilaian risiko (risk assessments) dan penentu luasnya proseedur audit.Menentukan materialitas merupakan latihan dalam kearifan profesionalan.Materialitas didasarkan pada persepsi auditor mengenai kebutuahan iinformasi keuangan secara menyeluruh dari pemakaian laporan keuangan sebagai satu kelompok. Istilah materialitas secara menyeluruh (overall materiality) digunakan dalam buku ( Audit Berbasis ISA) ini merujuk pada materialitas yang diterapkan dalam laporan keuangan secara keseluruhan. Jika salah saji dalam laporan keuangan melebihi jumlah yang secara umum diperkirakan wajar dan dapat memengaruhi keputusan ekonomis pemakai laporan , maka jumlah tersebut (secara menyeluruh) adalah material.
Overall Materiality dan Specific Materiality
Materialitas untuk laporan keuangan secara keseluruhan didasarkan pada kearifan professional auditor mengenai jumlah terbesar salah saji dalam laporan keuangan tanpa memengaruhi keputusan ekonois pemakai laporan keuangan.Jika umlah salah saji yang tidak dikoreksi, terpisah atau dibungkam, lebih besar dari overall materiality yang ditetapkan untuk penugasan tersebut maka laporan keuangan disalahsajikan secara material.
overall materialitydidasarkan pada persepsi auditor mengenai kebutuhan informasi keuangan secara umum dari pemakai laporan keuangan berbagai pemakai sebagai satu kelompok. Oleh karena itu, dampak salah saji untuk seorang pemakai tertenti (specific individual users), yang kebutuhannya bias berbeda, tidak menjadi pertimbangan auditor dalam menetapkan materialitas secara keseluruhan (overall materiality).

Sifat Salah Saji
                Situasi yang terkait ddenga salah saji, dapat menybabkan auditor mengevaluasi salah saji itu sebagai material sekalipun besarnya (atau angka salah saji) di bawah materialitas. Contoh,, kasus perbuatan melawan hukum, ketidakpatuhan terhadap ketentuan dalam perjanjian kredit atau perikatan lainnya, dan ketidak patuhan terhadap ketentuan statute dan pelaporan yang ditetapkan regulator. Namun, memang tidak praktis merancang prosedur audit untuk mendeteksi salah saji semata-mata atas dasar sifat atau nature dari salah saji tersebut.
Performance Materiality
                Performancemateriality(materialitas yang digunakan dalam pelaksanaan audit, atau disingkat, “materialitas pelaksanaan”) digunakan auditor untuk menekan risiko sampai ke titik rendah yang dapat diterima. Yang ditekan adalah risiko besarnya salah saji melampaui angka materialitas.Dalam hal ini salah saji yang dimaksid adalah akumulasi ssalah saji yang tidak dikoreksi entitas dan salah saji yang tidak teridentifikasi oleh auditor.
                Performancematerialitysengaja diterapkan pada angka atau jumlah yang lebih rendah dari overall atau specific materiality. Tujuannya adalah melaksanakan lebih banyak pekerjaan audit untuk:
1.       Memastikan salah saji yang lebih kecil dari overall materiality atau specific materiality dapat dideteksi; dan
2.       Menyediakan suatu margin atau penyangga (buffer) untuk salah saji yang tidak terdeteksi. Penyangga ini adalah selisih antara gabungan seluruh salah saji yang terdeteksi tetapi tidak dikoreksi dan overall materiality atau specific materiality.
B.             Bagaimana Menetukan Materialitas
Pembahasan barikut ini menjelaskan bagaimana menentukan besarnya overall materiality dan specific materiality, dan cara menggunakannya.
    1.     Overall Materiality
Overall materialitydidasarkan atas persepsi auditor mengenai kebutuhan pemakai laporan keuangan. Auditor dapat mengasumsikan hal-hal berikut mengenai pemakai laporan keuangan:
a.    Mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai bisnis, kegiatan ekonomis, dan akuntansi.
b.   Mempunyai keinginan untuk mempelajari informasi dalam laporan kuangan dengan cukup cermat.
c.  Memahami bahwa laporan keuangan dibuat dan diaudit pada tingkat materialitas (dan mengabaikan yang tidak material).
d. Menerima ketidakpastian yang inheren dalam penggunaan estimasi, judgement, dan pertimbangan mengenai peristiwa di kemudian hari.
e.   Membuat keputusan ekonomis yang wajar atas dasar informasi dalam laporan keuangan.
Sebagai langkah awal menentukan angka materialitas, auditor biasanya mrnggunakan suatu acuan, ambang batas, threshold atau benchmark.Dari acuan ini dan besarnya persentase didasarkan pada kearifan professional.Sebagai contoh, dalam bisnis yang dikelola oleh pemiliknya, pemilik mengambil sebagian besar dari keuntungan perusahaan sebagai remunerasinya. Oleh karena itu, masuk akal jika auditor menggunakan laba sebelum remunerasi dan pajak sebagai acuan atau benchmark:

BUTIR PERTIMBANGAN
Demi konsistensi, kantor-kantor akuntan public (KAP) menetapkan petunjuk bagi KAP (firm-wide guidelines) tentang bagaimana materialitas ditentukan pada awalnya (misalnya suatu persentase tertentu), termasuk acuannya untuk benchmarks (misalnya laba sebelum pajak). Namun, acuan yang sebenarnya digunakan tergantung pada kearifan professional dengan memperhatikan siklus khusus ([articular circumtances) yang tidak lain adalah alat untuk menangani risiko salah saji yang material dengandenga “menangkap” salah saji yang besarannya di bawah ambang batas tertentu.

Pertimbangan dalam Memilih Acuan yang Tepat
1.   Pemakai: tentukan siapa yang kemungkinan besar pemakai laporan keuangan.ini dapat terdiri atas pemilik entitas (bersama pemegang saham lainnya). TCWG, lembaga keuangan, pemilik waralaba, penyandang dana utama, pegawai, pelanggan, kreditur, dan lembaga Negara.
2.   Ekspektasi pemakai tertentu: tentukan ekspektasi pemakai tertentu, seperti:
a  Pengukuran atau diclousure untuk hal hal seperti related-party transactions, renumerasi manajemen, dan ketaatan terhadap ketentuan perundang-undangan yang sensitive.
b.   Pengungkapan yang khas untuk industry tertentu (industry-spesific disclousures) seperti beban eksplorasi dalam bidang pertambangan, dan beban penelitian danpengembangan sdalam perusahaan informasi teknologi atau farmasi.
c.     Peristiwa penting (seperti merger, akuisisi, restrukturasasi, tuntutan hukum terhadap perusahaan, dan lain-lain) atau contingencies.
d.    Adanya pelanggaran terhadap perjanjian, kontrak, dan perikatan hukum lainnya, jika kesalahan yang kecil tidak dikoreksi bermakna adanyya pelanggaran semacam itu, dampak terhadap laporan keuangan bias signifikan dan (yang terburuk) dapat berdampak pada ketidak tepatan penggunaan going concern assumption dalam penyusunan laporan keuangan.
3.  Unsur laporan keuangan yang relevan: apa unsur laporan keuangan yang terpenting atau yang penting-penting dalam laporan keuangan, yang menjadi perhatian atau minat pemakai laporan keuangan (asset, kewajiban, ekuitas, laba, dan beban)?
4.   Sifat entitas:pertimbangan sifat entitas, misalnya dalam tahap life cyrcle, di mana entitas ini berbeda (bertumbuh “senja” atau mature, atau menurun, atau “sekarat”). Bagaimana keadaan industrinya di mana entitas ini berada. Bagaimana lingkungan ekonomi dimana entitas ini beroperasi?
5.   Apakah perlu adjustments?:apakah adjustmentsdiperlukan untuk “menormalkan” acuan atau benchmarkbase? Misalnya, laba dari kegiatan yang masih berlanjut (income from continuing operations) dapat di adjust untuk:
a.       Pendapatan atau beban luar biasa atau yang tidak berulang (non-recurring); dan
b.    Bonus kepada manajemen, yang didasarkan atas laba sebelum bons atau yang dibayarkan sekadar untuk menurunkan laba yang ditahan perusahaan.
6.  Fokus utama para pemakai: apa informasi dalam laporan keuangan yang menarik perhatian utama pemakai? Contoh pemakai menaruh minat pada:
a.  Mengevaluasi kinerja keuangan, maka focus mereka adalah pada laba, pendapatan, atau asset neto; dan
b.  Sumber daya yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu, maka focus mereka adalah pada sifat dan luasnya/dalamnya pendapatan dan beban.
7.   Pembelanjaan entitas: bagaimana entitas dibelanjai? Jika sekadar dari utang (dan bukan modal ekuitas), pemakai akan menekankan pada asset yang dijadikan agunan dan klaim kreditur terhadp laba entitas.
8.    udah merubah-ubah (volatile):seberapa mudah berubahnya/tidak stabilnya acuan yang diusulkan? Contoh, acuan berdasarkan angka lapa umumnya merupakan acuan yang tepat. Namun, jika entitas beropesai mendekati break-even  atau hasil usaha berfluktuasi dangan hebat, angka laba mungkin bukan acuan yang tepat untuk menentukan materialitas.
9.   Acuan alternatif: apakah ada alternatif untuk acuan yang diusulkan? Apakah alternatif ini tepat untuk situasi yang dihadapi? Acuan alternative bias berupa current assets, net working capital, total assets, total revenues, gross profit, total equity, dan cash flow from operations.
      2.       Performance Materiality
Overall materiality dan specific materiality diterapkan dalam hubungan dengan kebutuhan pemakai laporan keuangan.Performance materiality ditetapkan dalam jumlah yang lebih rendah. Akibatnya, auditor melaksanakan lebih banyak pekerjaan audit (salah saji yang lebih kecil akan teridentifikasi) dan risiko audit ditekan ke tingkat rendah yang dapat diterima. Jika audit direncanakan hanya untuk mendeteksi salah saji material, yang atau berdiri sendiri, tidak akan adda pelung membuat kesalahan (no margin of error). Padahal peluang ini diperlukan untuk mengidentifikasi dan memperhitungkan salah saji yang immaterial yang mungkin ada.Dan jika dijumlahkan, salah saji yang masing-masingnya immaterial secara tergabung dapat menyebabkan laporan keuangan laporan keuangan disalahsajikan secara material.Performance materialitydirancang untuk:
a. Memastikan salah saji yang lebih kecil dari overall materiality atau specific materialitydapat dideteksi; dan
b.  Menyediakan suatu margin atau penyangga (buffer) untuk salah saji yang tidak terdeteksi. Penyangga ini adalah selisih antara gabungan seluruh salah saji yang terdeteksi tetapi tidak dikoreksi dan overall materiality atauspecific materiality.
Penentuan performance materiality tidaklah merupakan hitungan mekanis yang sederhana seperti “sekedar menyatakan” 80% dari overall materiality.Penyederhanaan seperti ini mengabaikan factor risiko yang spesifik, yang bias relevan bagi entitas itu. Sebagai contoh,jika ada risiko yang tinggi untuk membuat kesalahan dalam menghitung harga persediaan, performancematerialitydapat diturunkan agar pekerjaan audit lebih banyak untuk menemukan salah saji. Sebaliknya, jika risiko salah saji dalam piutang dagang itu kecil, performance materiality dapat dinaikkan, dengan akibat pekerjaan audit substantive dapat dikurangi.Performance materiality memerlukakn kearifan professional auditor.
Tingkat materialitas dan pengguaan performance materiality diringkas dalam table berikut:

Overall Materiality
Specific Materiality
Performance Materiality
Tujuan
Sebagai ambang batas untuk menentukan bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji yang material, baik karena error atau fraud.
Sebagai ambang batas (lebih rendah dari overall materiality) yang diteraokan pada jenis transaksi, saldo akun, atau disclosures tertentu dimana salah saji yang lebih kecil dari overall materialiy dapat memengaruhi keputusan ekonomis pemakai laporan.

Dasar perhitungan
Salah saji yang dapat diterima (tolerable oleh pemakai laporan,,karena tidakk memengaruhi keputusan ekonomisnya.
Tingkat salah saji terkait dengan jenis transaksi, saldo akun, atau disclousure tertentu, yang secara wajarnya dapat memengaruhi keputusan ekonomis pemakai.
Berapa banyak pekerjaan audit agar:
a.       Salah saji di bawah over-all atau specific materiality) dapat ditemukan; da nada margin pengaman untuk salah saji yang tidak terdeteksi
Ancer-ancer sebagai titik awal
Meterialitas berurusan dengan kearifan profrsional dan bukan sekadar hitungan mekanis. Oleh karena itu, ISA tidak memberikan petunjuk yang sepsifik. Dalam perktiknya, laba darioperasi perusahaan yang berjalan normal (3sampai 7%) seriign digunakan sebagai acuan yang paling Signifinkan bagi pemakai laporan. Jika laba bukan acuan yang tepat (misalnya untuk entitas nirlaba) atau bukan merupakan stable base,, acuan lain yang dapat digunakan:
a.       Revenues atau expenditure: 1 sampai 3%;
b.       asset 1 sampai 3%; atau
c.        equity3 sampai 5%.
Tentukan angka yang lebih rendah, berdasarkan kearifan professional, untuk area atau unsur laporan keuangan yang sensitive atau spesifik.
SA yang memberikan petunjuk yang spesifik. Persentase bervariasi dari 60%( dari overall atau Ispesific materiality), dimana risiko salah saji yang material yang lebih besar, sampai 85% dimana risiko salah saji yang material lebih kecil.
Penggunaan dalam audit
Menentukan apakah salah saji yang tidak dikoreksi, terpisah atau tergabung, melampaui overall materiality.
Menentukan apakah salah saji yang tidak dikoreksi, terpisah atau tergabung, melampaui specific materialiy.
a.        Menilai risiko salah saji yang material.
b.       Rancang prosedur audit selanjutnya sebagai tanggapan atas assessed risks.
Revisi selama audit berlangsung
a.       perubahan situasi selama audit seperti penjualan sebagian bisnis.
b.       Informasi baru.
c.        Perubahan dalam perubahan auditor mengenai entitas dan usahanya, sesudah melakukan prosedur audit selanjutnya (misalnya, laba sebenarnya sangat berbeda dari ekspektasi).
Perubahan dalam situasi khusus
a.       Perubahan dalam assessed risks.
b.       Sifat dan luasnya salah saji ditemukan sewaktu melaksanakan prosedur audit selanjutnya.
c.        [erubahan dalam pemahaman auditor mengenai entitas.
 
C.      Materialitas dalam Perencanaan dan Penilaian Resiko
Menentukan berbagai tingkat materialitas merupakan unsur kunci dalam proses perencanaan. Penentuan tingkat materialitas bukanlah suatu tahap yang berdiri sendiri atau terpisah dari tahap-tahap lain, melainkan proses yang berkesinambungan dari satu htahap ke tahap selanjutnya sampai akhir audit. Istilah bahasa inggrisnya, “it is not a discrete phase of an audit, but rather a continual an iteritatve process’.
Istilah “iterative process” bermakna, suatu prosedur menghasilkan temuan, dan temuan ini memicu suatu tanggapan dalam prosedur audit selanjutnya. Proses yang interatif ini ditunjukkan dalam perencanaan auditnya. Penggunaan materialitas dalam perencanaan dan penilaian risiko (risk assessment) ditunjukkan dalam table berikut:

Penggunaan Materialitas dalam:
Perencanaan (Strategi Menyeluruh dan Rencana Audit)
Digunakan materialitas untuk:
1.       Menentukan items ddalam laporan keuangan yang harus diaudit;
2.       Menetapkan konteks dan rujukan untuk strategi audit menyeluruh (overall audit strategy);
3.       Merencanakan sifat (nature), waktu pelaksanaan (inning), dan luasnya (extent) prosedur audit tertentu;
4.       Menemukan specific materiality untuk jenis transaksi (classes of transaction), saldo akun (account balance), atau disclosures tertentu dimana angka salah saji yang lebih rendah dari overall materiality atau performance materiality (secara layak) diperkirakan dapat mempengaruhi keputusan ekonomis pemakai laporan keuangan;
5.       Menemukan performance materiality untuk setiap tingkat specific materiality, sesuai dengan kebutuhan audit, untuk jenis transaksi, saldo akun, atau disclosures tertentu, tergantung tingkat risiko yang dikehendaki untuk masing-masing item tersebut;
6.       Menevaluasi bukti terakhir untuk menentukan perlu/tidaknya adjustments atau revisi terhadap tingkat-tingkat materialitas.jika diperlukan, auditor akan merevisi sifat, waktu pelaksanaan dan luas prosedur sesuai keadaan.
Prosedur penilaian risiko
1.       Mengidentifikasi prosedur penilaian risiko (risk assessment procedure)apa saja yang diperlukan.
2.       Menetapkan konteks atau rujukan ketika auditor mengevaluasi informasi yang diperoleh.
3.       Menilai besar dan dampak dari risiko yang di/teridentifikasi
4.       Menilai hasil dari prosedur penilaian risiko.
Pertemuan tim penugasan
1.   Memastikan bahwa anggota tim memahami pemakai laporan keuangan diidentifikasi dan apa yang layaknya menjadi ekspektasi mereka ddalam membuat keputusan ekonomis. Hal ini berguna dalam hal adanya informasi yang diketahui anggota tim, yang memerlukan perubahan angka materialitas dari apa yang ditetapkan pada awalnya. Contoh dari hal-hal yang memerlukan perubahan angka materialitas:
            a.  Keputusan melepas bagian yang besar dari bisnis entitas
           b. Informasi baru atau factor risiko(yang baru di ketahui) yang seharusnya berdampak dalam  penentuan materialitas awal.
          c. Perubahan dalam pemahaman auditor mengenai entitas dan kegiatan usahanya, sebagai hasil dari pelaksanaan prosedur audit selanjutnya, misalkan ketika angka laba sebenarnya berbeda dari angka yang diantisipasi.
2.  Menyusun strategi audit menyeluruh (overall audit strategy)
3.  Menentukan luasnya pengujian sehubungan dengan:
            a.       Performance materiality;
            b.       Specific performance materiality.
4.       Mengidentifikasi masalah audit yang gawat (critical audit issues ) dan area yang memerlukan perhatian atau penekanan audit.


BUKTI PERTIMBANGAN
Penentuan tingkat overall performance materiality dan specific performance materiality memerlukan kearifan professional (professional judgment). Disarankan, tetapi tidak di wajibkan, tim penugasan membahas kearifan professional yang diterapkan dalam menetapkan tingkat-tingkat materialitas, dengan partner penugasan (engagement partner) dan memperoleh persetujuan partner tersebut. Akhirnya, catatan atau rekam kearifan professional yang digunakan untuk mentukan materialitas, secara cukup terinci, di dalam kertas kerja audit.

D.      Materialitas dalam Pelaksanaan Prosedur Audit
Auditor harus menggunakan materialitas ketika menentukan sifat, waktu pelaksanaan, dan luasnya prosedur audit. Gunakan materialitas untuk:
        a.  Mengidentifikasi prosedur audit selanjutnya (futher audit procedures)    
     b. Menetukan item mana yang harus dipilih untuk sampling atau testing, dan apakh harus menggunakan teknik sampling 
       c.  Membantu menentukan banyaknya sampel 
      d. Mengevaluasi representative sampling errors (RSE) untuk menentukan salah saji yang mungkin ada. RSE adalah salah sampling yang mewakili seluruh populasi
e.  Mengevaluasi gabungan seluruh kesalahan (agregat of totall errors) pada tingkat akun sampai ke tingkat laporan keuangan. 
f.   Mengevaluasi gabungan seluruh kesalahan, termasuk dampak neto dari salah saji yang tidak dikoreksi (uncorrected misstatements) yang ada dalam saldo awal retained earniings 
      g.  Menilai hasil prosedur audit.


BUTIR PERTIMBANGAN
Overall materiality  sangat jarang kemungkinannya untuk diubah. Namun, materialitas tersebut mungkin saja direvisi sewwaktu audit mengetahui adanya informasi baru atau ada perubahan dalam pemahaman auditor mengenai entitas dan operasinya. Jika perubahan diperlukan, pastikan bahwa tim audit diberi tahu dan nilai dampaknya terhadap rencana audit.
Performance materiality  dapat berubah berdasarkan faktor resiko baru atau temuan audit baru yang mungkin tidak berdampak terhadap overall materiality. Perubahan dalam performance materiality  berakibat pada modifikassi terhadap sifat, waktu pelaksanaan, dan luasnya prosedur audit. Tentunya jika overall materiality berubah, perunbahan terkait juga diperlukan dalam performance materiality.

E.              Materialitas dalam Pelaporan
Berikut ini terjemahan alinea 11 dan 12 dari ISA 450. ISA 450. 11
Auditor wajib menetukan apakah salah saji yang tidak dikoreksi adalah material, sendiri-sendiri atau jika digabungkan. Dalam menentukan hal ini auditor wajib mempertimbangkan:
a.  Besar dan sifat salah saji, dalam hubungannya dengan jenis transaksi, saldo akun, atau pengungkapan tertentu, maupun dalam hubungan dengan laporan keuangan secara keseluruhan, serta situasi di mana salah saji itu terjadi, dan (liaht alinea A13-A17, A19-A20)
b.   Dampak salah saji yang tidak dikoreksi dalam hubungannya dengan jenis transaksi, saldo akun, atau pengungkapan terkait, serta laporan keuangan secara keseluruhan tahun lalu. (lihat alinea A18).
ISA 450. 12
Auditor wajib mengomunikasikan dengan TCWG mengenai salah saji yang tidak dikoresi dan dampaknya, sendiri-sendiri atau jika digabungkan, terhadap pendapat auditor kecuali jika dilarang oleh ketentuan perundang-undangan. Komunikasi auditor wajib mengidentifikasi masing-masing salah saji material yang tidak dikoreksi. Auditor wajib meminta salah saji yang belum dikoreksi, agar dikoreksi.
Sebelum menerbitkan opini auditor harus:
a. Menegaskan kembali materialitas yang ditetapkan untuk laporan keuangan secara keseluruhan;
b.  Mengevaluasi sifat dan jumlah agregat salah saji yang tidak dikoreksi yang ditemukan auditor; dan
c.  Membuat penilaian menyeluruh mengenai apakah laporan keuangan disalah sajikan secara material.
Auditor menggunakan materialitas untuk:
a.   Mengevaluasi gabungan seluruh kesalahan pada tingkat akun sampai ke tingkat laopran keuangan;
b.   Mengevaluasi gabungan seluruh kesalahan, termasuk dampak neto dari salah saji yang tidak dikoreksi yang ada dalam saldo awal retained earnings;
c.   Menetukan apakah prosedur audit tambahan harus dilaksanakan ketika gabungan salah saji mendekati overall materiality atau specific materiality;
d.   Meminta manajemen mengoreksi semua slaah saji yang ditemukan;
e.   Mempertimbangkan untuk ,memeriksa kembali area dengan salah saji terbanyak;
f.   Memberikan pandangan mengenai sifat dan sesifitas salah saji yang ditemukan, dan juga besarannya;
g.  Menentukan apakah laporan audoitor harus dimodifikasi (artinya apakah auditor harus memberi opini ayang bukan WTP) karena salah saji yang tidak dikoreksidi mana jumlah atau sifatnya material.
Salah saji gabungan atau agregat (aggregate of misstatements) terdiri atas :
a.   Salah saji yang secara spesifik ditemukan auditor, yang merupakan hasil dari prosedur pengujiannya; dan
b.    Taksiran saji lainnya yang ditaksir atau diperkirakan.





Kamis, 13 Oktober 2016

Sistem Pengendalian Manajemen Sektor Publik


A.    Sistem Pengendalian Manajemen Sektor Publik
Setiap organisasi publik maupun swasta memiliki tujuan yang hendak dicapai. Untuk mencapai tujuan organisasi tersebut diperlukan strategi yang dijabarkan dalam bentuk program-program atau aktivitas. Organiasasi memerlukan sistem pengendalian manajemen untuk memberikan jaminan dilaksanakannya strategi organisasi secara efektif dan efisisen sehingga tujuan organisasi dapat dicapai. Sistem pengendalian manajemen sektor publik berfokus pada bagaimana melaksanakan strategi organisasi secara efektif dan efesien sehingga tujuan organisasi dapat dicapai. Sistem pengendalian manajemen tersebut harus didukung dengan perangkat yang lain berupa struktur organisasi yang sesuai dengan tipe pengendalian manajemen yang digunakan, manajemen sumber daya manusia, dan lingkungan yang mendukung.
B.  Tipe Pengendalian Manajemen 
      Tipe pengendalian manajemen dikategorikan menjadi tiga kelompok, yaitu: 
1.  Pengendalian preventif (preventif control). Dalam tahap ini pengendalian manajemen terkait dengan perumusan strategi perencanaan strategik yang dijabarkan dalam bentuk program-program.
2.   Pengendalian operasional (operational control). Dalam tahap ini pengendalian manajemen terkait dengan pengawasan pelaksanaan program yang telah ditetapkan melalui alat berupa anggaran. Anggaran digunakan untuk menghubungkan perencanaan dengan pengendalian.
3.  Pengendalian kinerja. Pada tahap ini pengendalian manajemen berupa analisis evaluasi kinerja berdasarkan tolok ukur kinerja yang telah ditetapkan.
C.    Struktur Pengendalian Manajemen 
   Suatu organisasi merupakan kumpulan dari berbagai pusat pertanggungjawaban tersebut adalah: 
1)   Sebagai basis perencanaan, pengendalian, dan penilaian kinerja manajer dan unit organisasi yang dipimpinnya; 
2) Untuk memudahkan mencapai tujuan organisasi dan memfasilitasi terbentuknya goal congruence; 
3) Mendelegasikan tugas dan wewenang ke unit-unit yang memiliki kompetensi sehingga mengurangi beban tugas manajer pusat;
4)  Mendorong kreativitas dan daya inovasi bawahan serta sebagai alat untuk melaksanakan strategi organisasi secara efektif dan efisisen 
5)  Sebagai alat pengendalian anggaran.
D.    Proses Pengendalian Manajemen Sektor Publik Proses pengendalian manajemen pada organisasi sektor publik dapat dilakukan dengan menggunakan saluran komunikasi formal dalam organisasi yang meliputi:   
1).  Rumusan strategi (strategy formulation). Perumusan strategi merupakan proses penentuan visi, misi, tujuan, sasaran, target (outcome), arah dan kebijakan, serta strategi organisasi. Perumusan strategi merupakan tugas dan tanggung jawab manajemen puncak (top management). Dalam organisasi pemerintahan, perumusan straegi dilakukan oleh dewan legislatif yang hasilnya berupa Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang akan menjadi acuan bagi eksekutif dalam bertindak. Strategi yang dihasilkan dari proses perumusan strategi merupakan strategi global (makro) atau dalam perusahaan disebut corporate level strategy. Strategi organisasi ditetapkan untuk memberikan kemudahan dalam mencapai tujuan organisasi. Salah satu metode penentuan strategi adalah dengan menggunakan analisis SWOT (strenght, weakness, opportunity, threath). Berdasarkan analisis SWOT tersebut, organisasi dapat menentukan strategi terbaik untuk mencapai tujuan organisasi. Strategi perusahaan dapat beruabah atau mengalami revisi (strategy revision), jika terdapat lingkungan yang berubah yang dipengaruhi oleh adanya ancaman (threat) dan kesempatan (opportunity) misalnya adanya inovasi teknologi baru, peraturan pemerintah baru, atau perubahan lingkungan politik dan ekonomi lokal dan global. Proses perumusan strategi pada organisasi sektor publik banyak dipengaruhi oleh sektor swasta. Sama halnya dengan sektor swasta, tahap paling awal dari manajeen strategik pada sektor publik adalah perencanaan. Perencanaan dimulai dari perumusan strategi. 
2). Perencanaan startegik (strategic plannning). Perencanaan strategik adalah proses penentuan program-program, aktivitas, atau proyek yang akan dilaksanakan oleh suatu organisasi dan penentuan jumlah alokasi sumber daya yang akan dibutuhkan. Tujuan utama perencanaan strategik adalah untuk meningkatkan komunikasi antara manajer puncak dengan manajer level bawahannya. Adanya komunikasi ini akan memungkinkan terjadi persetujuan antara manajer puncak dengan manajer level bawah mengenai strategi terbaik untuk mecapai tujuan organisasi yang ditetapkan. Hal ini akan mendorong terwujudnya good congruence. Proses strategik merupakan proses yang sistematik yang memiliki prosedur dan skedul yang jelas. Orientasi dilakukannya manajemen strategik pada organisasi publik menuntut adanya strategic vision, strategic thinking, strategic leadership, dan strategic organization. Adapun manfaat perencanaan strategik bagi organisasi adalah sebagai sarana untuk memfasilitasi terciptanya anggaran yang efektif; Sebagai sarana untuk memfokuskan manajer pada pelaksanaan strategi yang telah ditetapkan; Sebagai sarana untuk memfasilitasi dilakukannnya alokasi sumber daya yang optimal (efektif dan efisien); dan Sebagai kerangka untuk pelaksanaan tindakan jangka pendek (short term action); 
3). Penganggaran. Apabila tahap perencanaan strategik telah selesai dilakukan, tahap berikutnya adalah menentukan anggaran. Tahap penganggaran dalam proses pengendalian manajemen sektor publik merupakan tahap yang dominan. Proses penganggaran pada organisasi sektor publik memiliki karakteristik yang agak berbeda dengan penganggaran pada sektor swasta. Perbedaan tersebut terutama adalah adanya pengaruh politik dalam proses penganggaran. 
4).  Operasional (pelaksanaan anggaran)
5).  Evaluasi kinerja Tahap akhir dari proses pengendalian manajemen adalah penilaian kinerja. Penilaian kinerja merupakan bagian dari proses pengendalian manajemen yang dapat digunakan sebagai alat pengendalian. Pengendalian manajemen melalui sistem penilaian kinerja dilakukan dengan cara menciptakan mekanisme reward & punishment. Sistem pemberian penghargaan (rewards) dan hukuman (punishment) digunakan sebagai pendorong bagi pencapaian strategi. Pemberian imbalan (reward) dapat berupa finansial dan nonfinansial seperti pshycologoical reward dan social reward. Imbalan atau penghargaan yang sifatnya finansial misalnya berupa kenaikan gaji, bonus, dan tunjangan. Imbalan yang bersifat psikologis dan sosial misalnya berupa promosi jabatan, penambahan tanggung jawab dan kepercayaan, otonomi yang lebih besar, penempatan kerja di lokasi yang lebih baik, dan pengakuan. Mekanisme pemberian sanksi dan hukuman untuk kondisi tertentu diperlukan. Namun, orientasi penilaian kinerja hendaknya lebih diarahkan pada pemberian penghargaan (reward oriented).
       
Sumber Literatur: Mardiasmo 2009 (Akuntansi Sektor Publik)

Gambaran Umum Akuntansi Manajemen Sektor Publik

A.    Pengertian Akuntansi Manajemen Sektor Publik
Peran utama akuntansi manajemen sektor publik adalah menyediakan informasi akuntansi yang akan digunakan oleh manajer sektor publik dalam melakukan fungsi perencanaan dan pengendalian organisasi. Informasi akuntansi diberikan sebagai alat atau sarana untuk membantu manajer menjalankan fungsi-fungsi manajemen sehingga tujuan organisasi dapat tercapai. 
 Akuntansi manajemen merupakan bagian dari suatu sistem pengendalian manajemen yang integral. Institute of Management Accountants (1981) mendefinisikan akuntansi manajemen sebagai suatu proses pengidentifikasian, pengukuran, pengakumulasian, penganalisaan, penyiapan, pengintepretasian, dan pengkomunikasian informasi finansial yang digunakan oleh manajemen perencanaan, evaluasi, dan pengendalian organisasi serta untuk menjamin bahwa sumber daya digunakan secara tepat dan akuntabel. Statements on Management Accounting 1A tentang definisi akuntansi manajemen, dipaparkan sebagai berikut: “The Process of identification, measurement, accumulation, analysis, preparation, interpretation, and communication of financial information used by management to plan, evaluate, and control within an organization and to assure appropriate use of and accountability for its resources.” 
Chartered Institute of Management Accountants (1994) dalam Jones dan Pandlebury (1996) membuat definisi yang lebih luas daripada definisi yang dikeluarkan oleh Institute of Management Accountants, terutama dalam hal luas informasi yang diberikan. Chartered Institute of Management Accountants mendefinisikan akuntansi manajemen sebagai suatu bagian integral dari manajemen yang terkait dengan pengidentifikasian, penyajian, dan pengintepretasian informasi yang digunakan untuk: Perumusan strategi, Perencanaan dan pengendalian aktivitas, Pengambilan keputusan, Pengoptimalan penggunaan sumber daya, Pengungkapan (disclosure) kepada shareholders dan pihak luar organisasi, Pengungkapan kepada karyawan serta Perlindungan asset
B.     Akuntansi Sebagai Alat Perencanaan Organisasi
Perencanaan merupakan cara organisasi menetapkan tujuan dan sasaran organisasi. Perencanaan meliputi aktivitas yang sifanya strategic, taktis dan melibatkan aspek operasional. Dalam hal perencanaan organisasi, akuntansi manajemen berperan dalam pemberian informasi historis dan prospektif untuk memfasilitasi perencanaan. Proses perencanaan juga melibatkan aspek perilaku yaitu partisipasi dalam pengembangan system perencanaan, penetapan tujuan dan pemilihan alat yang paling tepat untuk memonitor perkembangan pencapaian tujuan. Perencanaan organisasi sangat penting dilakukan untuk mengantisipasi keadaan di masa yang akan datang. Bagi tiap-tiap jenis organisasi, system perencanaan berbeda-beda tergantung pada tingkat ketidak pastian dan kestabilan lingkungan yang mempengaruhi. Semakin tinggi tingkat ketidakpastian dan ketidakstabilan lingkungan yang dihadapi organisasi, maka dari itu sangat diperlukan system perencanaan yang semakin kompleks dan canggih.
Dalam organisasi sektor publik, lingkungan yang mempengaruhi sangat heterogen. Faktor politik dan ekonomi sangat dominan dalam mempengaruhi tingkat kestabilan organisasi. Informasi akuntansi diperlukan untuk membuat prediksi-prediksi dan estimasi mengenai kejadian ekonomi yang akan datang dikaitkan dengan keadaan ekonomi dan politik saat ini.
Sementara itu, tingkat ketidakpastian (turbulansi) yang dihadapi sektor publik di masa-masa mendatang akan semakin tinggi. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh pesatnya teknologi informasi yang merambah ke seluruh sector, termasuk sektor publik. Sebagai missal, perkembangan internet menyebabkan munculnya gagasan dikembangkannya e-government. E-government merupakan upaya untuk memperbaiki proses dan prosedur administrasi di pemerintahan dengan menggunakan teknologi informasi (internet) agar memberikan kemudahan dan kecepatan pelayanan kepada stakeholder-nya.
Informasi akuntansi sebagai alat perencanaan pada dasarnya dapat dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu;
1). Informasi sifatnya rutin/jarang
2). Informasi Kuantitatif/kualitatif 
3). Informasi formal/informal 
Informasi yang sifatnya rutin diperlukan untuk perencanaan yang regular, misalnya laporan keuangan bulanan, triwulan, semesteran atau tahunan. Sementara itu, organisasi sector public seringkali menghadapi masalah yang sifatnya temporer dan membutuhkan informasi yang segera. Informasi akuntansi untuk perencanaan dapat juga dibedakan berdasarkan cara penyampaiannya. Apakah informasi akuntansi tersebut disampaikan melalui mekanisme formal ataukah informal. Mekanisme formal misalnya adalah melalui rapat-rapat dinas, rapat komisi dan sebagainya.
Pada organisasi sector public, saluran informasi lebih banyak bersifat formal, sedangkan mekanisme informal relative jarang dilakukan. Hal tersebut adalah karena adanya batasan transparansi dan akuntabilitas public yang harus dilakukan oleh lembaga-lembaga publik, sehingga perencanaan tidak dapat dilakukan secara personal atau hanya melibatkan beberapa orang saja.
C.    Akuntansi Sebagai Alat Pengendalian Organisasi
Untuk menjamin bahwa strategi untuk mencapai tujuan organisasi dijalankan secara ekonomis, efisien dan efektif, maka diperlukan suatu system pengendalian yang efektif. Pola pengendalian organisasi berbeda-beda tergantung pada jenis dan karakteristik organisasi. Organisasi bisnis karena sifatnya yang berorientasi pada perolehan laba, maka alat pengendaliannya lebih banyak bertumpu pada mekanisme negosiasi (negotiated bargain), meskipun hal tersebut bervariasi untuk tiap organisasi dan tingkatan manjemen. Sementara itu, organisasi sector public karena sifatnya yang tidak mengejar laba serta adanya pengaruh politik yang besar, makan alat pengendaliannya lebih banyak berupa peraturan birokrasi.
Fungsi utama informasi akuntansi pada dasarnya adalah pengendalian. Informasi akuntansi merupakan alat pengendalian yang vital bagi organisasi karena akuntansi memberikan informasi yang bersifat kuantitatif. Informasi akuntansi umunya dinyatakan dalam bentuk ukuran financial, sehingga memungkinkan untuk dilakukan pengintegrasian informasi dari tiap-tiap unit organisasi yang pada akhirnya membentuk gambaran kinerja organisasi secara keseluruhan. Lebih lanjut, informasi akuntansi memungkinkan bagi organisasi untuk mengitegrasikan aktifitas organisasi. Dalam memahami akuntansi sebagai alat pengendalian perlu dibedakan penggunaan informasi akuntansi sebagai alat pengendalian keuangan (financial control) dengan akuntansi sebagai alat pengendalian organisasi (organizational control). Pengendalian keuangan terkait dengan peraturan atau system aliran uang dalam organisasi, khususnya memastikan bahwa organisasi memiliki likuiditas dan solvabilitas yang cukup baik.
Sementara itu, pengendalian organisasi adalah terkait dengan pengintegrasian aktivitas fungsional ke dalam sistem organisasi secara keseluruhan. Pengendalian organisasi diperlukan untuk menjamin bahwa organisasi tidak menyimpang dari tujuan dan strategi organisasi yang telah ditetapkan. Pengendalian organisasi memerlukan informasi yang lebih luas dibandingkan pengendalian keuangan. Informasi yang dibutuhkan lebih kompleks tidak sekedar informasi keuangan saja. Sebagai contoh dalam sebuah usulan investasi public, informasi yang dibutuhkan untuk pengendalian keuangan adalah berupa prediksi aliran kas dan profitabilitas dari investasi tersebut. Sementara itu, untuk tujuan pengendalian organisasi di butuhkan informasi yang lebih luas meliputi aspek ekonomi, social dan politik dari investasi yang diajukan.

Danau Tanralili ( Surga Di Kaki Gunung Bawakaraeng)

Sumb er: Dokum entasi Pribadi M e nd e ngar kata Gunung Bawakara e ng s e kilas akan t e rlintas angan t e ntang k e tinggian dan huta...