A.
Pengertian Qiro’ah
Menurut bahasa, Qira’at(قراءات) adalah bentuk jamak dari qira>’ah (قراءة) yang merupakan isim masdar dari qaraa (قرأ), yang artinya : bacaanPengertian Qira’at
menurut istilah cukup beragam. Hal ini disebabkan oleh keluasan makna dan sisi
pandang yang dipakai oleh ulama tersebut. Berikut ini akan diberikan dua
pengertian Qira’atmenurut istilah. Qira’atmenurut al-Zarkasyi merupakan
perbedaan lafal-lafal al-Qur'an, baik menyangkut huruf-hurufnya maupun cara
pengucapan huruf-huruf tersebut, sepeti takhfif, tasydid dan lain-lain.
Dari pengertian di atas, tampaknya al-Zarkasyi hanya terbatas pada
lafal-lafal al-Qur'an yang memiliki perbedaan Qira’atsaja. Ia tidak menjelaskan
bagaimana perbedaan Qira’atitu dapat terjadi dan bagaimana pula cara
mendapatkan Qira’atitu. Ada pengertian lain tentang
Qira’atyang lebih luas daripada pengertian dari al-Zarkasyi di atas, yaitu
pengertian Qira’atmenurut pendapat al-Zarqani. Al-Zarqani memberikan pengertian Qira’atsebagai : “Suatu mazhab
yang dianut oleh seorang imam dari para imam qurra’ yang berbeda dengan yang
lainnya dalam pengucapan al-Qur’an al-Karim dengan kesesuaian riwayat dan
thuruq darinya. Baik itu perbedaan dalam pengucapan huruf-huruf ataupun
pengucapan bentuknya.”
Ada beberapa kata kunci dalam membicarakan qiraat yang harus
diketahui. Kata kunci tersebut adalah Qira’atriwayatdan tariqah. Berikut ini
akan dipaparkan pengetian dan perbedaan antara Qira’atdengan riwayatdan
tariqah, sebagai berikut
1.
Qira’ata dalah
bacaan yang disandarkan kepada salah seorang imam dari qurra’ yang tujuh,
sepuluh atau empat belas; seperti Qira’atNafi’, Qira’atIbn Kasir, Qira’atYa’qub
dan lain sebagainya.
2.
Sedangkan
Riwayat adalah bacaan yang disandarkan kepada salah seorang perawi dari para
qurra’ yang tujuh, sepuluh atau empat belas. Misalnya, Nafi’ mempunyai dua
orang perawi, yaitu Qalun dan Warsy, maka disebut dengan riwayatQalun ‘anNafi’
atau riwayatWarsy ‘an Nafi’.
3.
Adapun yang
dimaksud dengan tariqah adalah bacaan yang disandarkan kepada orang yang
mengambil Qira’atdari periwayat qurra’ yang tujuh, sepuluh atau empat belas.
Misalnya, Warsy mempunyai dua murid yaitu al-Azraq dan al-Asbahani, maka
disebut tariq al-Azraq ‘an Warsy, atau riwayat Warsy min thariq al-Azraq. Bisa
juga disebut dengan Qira’atNafi’ min riwayati Warsy min tariq al-Azraq.
Dari beberapa definisi
di atas dapat disimpulkan bahwa qira’ah adalah cara membaca ayat-ayat
Al-Qur’an yang dipilih dari salah seorang imam ahli qira’ah yang berbeda
dengan cara ulama’ lain serta didasarkan atas riwayat-riwayat yang mutawatir
sanadnya yang selaras dengan kaidah-kaidah bahasa Arab yang terdapat dalam
salah satu mushaf Usmani.
B.
Sejarah Qiraatil Qur’an
Pada periode awal
kaum muslimin memperoleh ayat-yat Al- Qur’an lansung dari Nabi Saw. kepada para
sahabat, dan dari para sabat ini kemudian kepada para tabi’in serta para imam-imam Qira’at pada masa selanjutnya. Pada masa Nabi Saw.
ayat-ayat ini diperoleh dari Nabi dengan cara mendegarkan, membaca lalu
beberapa sahadat menhafalkannya. pada
periode ini Alqur’an belum dibukukan, pedoman dasar bacaan dan pelajarannya
langsung bersumber dari Na bi Saw. Serta para
sahabat yang hafal Al-Qur’an . hal ini berlangsung hingga masa para sahabat
yang pada perkembangannya Al-Qur’an dibukukan atas dasar ikhtiar Abu Bakar dan
inisiatif Umar bin Khattab. pada perkembangan berikutnya, al-qur’an justru
tertata lebih karena kholifah usman berinisiatif untuk menyalin mushaf
dan dicetak lebih banyak untuk kemudiyan disebarkan kepada kaum muslimindi
berbagai kawasan. Langkah ini ditempuh oleh utsman bin affan karena pada waktu
itu terjadi perselisihan diantara kaum muslimin tentang perbedaan bacaan yang
mereka terima, maka dengan dasar inilah sejarah awal terjadinya perdebatan Qira’at
yang kemudiyan dipadankan oleh Utsman bin Affan dengan menyalin mushaf itu
menjadi satu bentuk yang sama dan mengirimnya ke berbagai daerah.. Dengan cara
seperti ini maka tidak akan ada lagi perbedaan, karena seluruh mushaf yang ada
di daerah-daerah kaum muslimin semuanya sama, yaitu mushaf yang berasal dari
kholifah utsman bin affan.
Setelah masa itu, maka
muncullah para qurra’ (para ahli dalam Membaca Al-Qur’an), merekalah
yang menjadi penutan di daerahnya masing-masing dan dari bacaan mereka di
jadikan pedoman serta cara-cara membaca Al-Qur’an. Di madinah, misalnya terdapat banyak qurro’ diantaranya Ibnul
Musayyab, Urwah, bin Abdul Aziz, Said bin Aslam. Di mekkah terdapat Ubaid bin
Umar, Thoush, Mujahid dan Ikrimah. Di kufah terdapat Alqomah, Masruq, dan
Ubaidah. Di Basrah ada Abu ‘Aliyah, Abu Roja’, dan Nasir bin Asir. Di Syam juga
terdapat para qurro’ diantaranya: Mughiroh bin Abi Syihab, Kholifah bin
Sa’id, Sahibu abi Darda’. Mereka semua adalah tokoh-tokoh yang ahli dalam qira’ah
Al-Qur’an yang termasyhur.
Selain itu qira’ah
Al-Quran juga dikenal bacaan yang teori membacanya berasal dari imam tujuh (qiro’ah
sab’ah) mereka adalah : Imam Abu ‘Amr, Nafi’, Ashim, Khamzah, Kisai,
Ibnu Amir dan Ibnu Kasir. Tetapi ilmu qiro’ah ini muncul pada abad IV H.
Imam sayuthi menyatakan bahwa yang pertama kali mengkaji dan
membukukannya dalam sebuah kitab adalah Abu Ubaid Al-Qasim bin salam, lalu imam
Ahmad bin Jubair Al-Kufi dan Ismail bin Ishaq Al-Maliki.
Adapun beberapa kitab
yang membahas Qiro’ah sab’ah adalah At-tafsir fi Qira’ati Sab’Ikarya
imam Abu amr’ Ad-dhani. Sedang yang membahas Qira’at asyrah adalah
Al-misbahud dzahir fi qira’atil asyir Dzawahir karya abduk kirom mubarak
bin hasan asy-Syahraqarzy.
Selain itu, Pembahasan tentang sejarah dan perkembangan ilmu Qira’atini dimulai
dengan adanya perbedaan pendapat tentang waktu mulai diturunkannya qira>’at.
Ada dua pendapat tentang hal ini; Pertama, Qira’atmulai diturunkan di Makkah
bersamaan dengan turunnya al-Qur’an. Alasannya adalah bahwa sebagian besar
surat-surat al-Qur’an adalah Makkiyah di mana terdapat juga di dalamnya
Qira’atsebagaimana yang terdapat pada surat-surat Madaniyah. Hal ini
menunjukkan bahwa Qira’atitu sudah mulai diturunkan sejak di Makkah. Kedua,
Qira’atmulai diturunkan di Madinah sesudah peristiwa Hijrah, dimana orang-orang
yang masuk Islam sudah banyak dan saling berbeda ungkapan bahasa Arab dan
dialeknya. Pendapat ini dikuatkan oleh hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim
dalam kitab shahihnya, demikian juga Ibn Jarir al-Tabari dalam kitab tafsirnya.
Hadis yang panjang tersebut menunjukkan tentang waktu dibolehkannya membaca
al-Qur’an dengan tujuh huruf adalah sesudah Hijrah, sebab sumber air Bani
Gaffar – yang disebutkan dalam hadis tersebut--terletak di dekat kota Madinah.
Kuatnya pendapat yang kedua ini tidak berarti menolak membaca surat-surat yang
diturunkan di Makkah dalam tujuh huruf, karena ada hadis yang menceritakan
tentang adanya perselisihan dalam bacaan surat al-Furqan yang termasuk dalam
surat Makkiyah, jadi jelas bahwa dalam surat-surat Makkiyah juga dalam tujuh
huruf.
Ketika mushaf
disalin pada masa Usman bin Affan, tulisannya sengaja tidak diberi titik dan
harakat, sehingga kalimat-kalimatnya dapat menampung lebih dari satu
Qira’atyang berbeda. Jika tidak bisa dicakup oleh satu kalimat, maka ditulis
pada mushaf yang lain. Demikian seterusnya, sehingga mushaf Usmani mencakup
ahruf sab’ah dan berbagai Qira’atyang ada. Periwayatan dan Talaqqi (si guru membaca dan murid mengikuti bacaan
tersebut) dari orang-orang yang tsiqoh dan dipercaya merupakan kunci utama
pengambilan Qira’atal-Qur’an secara benar dan tepat sebagaimana yang diajarkan
Rasulullah SAW kepada para sahabatnya. Para sahabat berbeda-beda ketika
menerima Qira’atdari Rasulullah. Ketika Usman mengirimkan mushaf-mushaf ke
berbagai kota Islam, beliau menyertakan orang yang sesuai qiraatnya dengan
mushaf tersebut. Qira’atorang-orang ini berbeda-beda satu sama lain,
sebagaimana mereka mengambil Qira’atdari sahabat yang berbeda pula, sedangkan
sahabat juga berbeda-beda dalam mengambil Qira’atdari Rasulullah SAW.
Dapat
disebutkan di sini para Sahabat ahli Qira’atantara lain adalah : Usman bin
Affan, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Ibn Mas’ud, Abu
al-Darda’, dan Abu Musa al-‘Asy’ari. Para sahabat kemudian menyebar ke seluruh
pelosok negeri Islam dengan membawa Qira’atmasing-masing. Hal ini menyebabkan
berbeda-beda juga ketika Tabi’in mengambil Qira’atdari para Sahabat. Demikian
halnya dengan Tabiut-tabi’in yang berbeda-beda dalam mengambil Qira’atdari para
Tabi’in. Ahli-ahli Qira’atdi kalangan Tabi’in
juga telah menyebar di berbagai kota. Para Tabi’in ahli Qira’atyang tinggal di
Madinah antara lain : Ibn al-Musayyab, ‘Urwah, Salim, Umar bin Abdul Aziz,
Sulaiman dan’Ata’ (keduanya putra Yasar), Muadz bin Harits yang terkenal dengan
Mu’ad al-Qari’, Abdurrahman bin Hurmuz al-A’raj, Ibn Syihab al-Zuhri, Muslim
bin Jundab dan Zaid bin Aslam. Yang tinggal di Makkah, yaitu: ‘Ubaid bin’Umair,
‘Ata’ bin Abu Rabah, Tawus, Mujahid, ‘Ikrimah dan Ibn Abu Malikah. Tabi’in yang tinggal di Kufah, ialah : ‘Alqamah, al-Aswad, Maruq,
‘Ubaidah, ‘Amr bin Surahbil, al-Haris bin Qais,’Amr bin Maimun, Abu Abdurrahman
al-Sulami, Said bin Jabir, al-Nakha’i dan al-Sya'bi. Sementara Tabi’in yang tinggal di Basrah , adalah Abu ‘Aliyah, Abu
Raja’, Nasr bin ‘Asim, Yahya bin Ya’mar, al-Hasan, Ibn Sirin dan Qatadah. Sedangkan Tabi’in yang tinggal di Syam adalah : al-Mugirah bin Abu
Syihab al-Makhzumi dan Khalid bin Sa’d. Keadaan ini
terus berlangsung sehingga muncul para imam qiraat yang termasyhur, yang mengkhususkan
diri dalam Qira’at– Qira’attertentu dan mengajarkan Qira’atmereka
masing-masing.
Perkembangan
selanjutnya ditandai dengan munculnya masa pembukuan qira’at. Para ahli sejarah
menyebutkan bahwa orang yang pertama kali menuliskan ilmu Qira’at adalah Imam
Abu Ubaid al-Qasim bin Salam yang wafat pada tahun 224 H. Ia menulis kitab yang
diberi nama al-Qira’atyang menghimpun qiraat dari 25 orang perawi. Pendapat
lain menyatakan bahwa orang yang pertama kali menuliskan ilmu qiraat adalah
Husain bin Usman bin Tsabit al-Baghdadi al-Dharir yang wafat pada tahun 378 H.
Dengan demikian mulai saat itu Qira’atmenjadi ilmu tersendiri dalam ‘Ulum
al-Qur’an.
Pada penghujung
Abad ke III Hijriyah, Ibn Mujahid menyusun Qira’atSab’ah dalam kitabnya Kitab
al-Sab’ah. Dia hanya memasukkan para imam qiraat yang terkenal siqat dan amanah
serta panjang pengabdiannya dalam mengajarkan al-Qur’an, yang berjumlah tujuh
orang. Tentunya masih banyak imam Qira’atyanng lain yang dapat dimasukkan dalam
kitabnya. Abu al-Abbas bin Ammar mengecam Ibn
Mujahid karena telah mengumpulkan Qira’atsab’ah. Menurutnya Ibn Mujahid telah
melakukan hal yang tidak selayaknya dilakukan, yang mengaburkan pengertian
orang awam bahwa Qiraat Sab’ah itu adalah ahruf sab’ah seperti dalam hadis Nabi
itu. Dia juga menyatakan, tentunya akan lebih baik jika Ibn Mujahid mau
mengurangi atau menambah jumlahnya dari tujuh, agar tidak terjadi syubhat.
C.
Syarat- Syarat Sahnya Qiraat
1. Para ulama menetapkan tiga syarat sah dan diterimanya qiraat. yaitu
:
Sesuai dengan salah satu kaidah bahasa Arab.
Sesuai dengan salah satu kaidah bahasa Arab.
2. Sesuai dengan tulisan pada salah satu mushaf Usmani, walaupun hanya
tersirat.
3. Shahih sanadnya.
Yang dimaksud
dengan “sesuai dengan salah satu kaidah bahasa Arab“ ialah: tidak menyalahi
salah satu segi dari segi-segi qawa’id bahasa Arab, baik bahasa Arab yang
paling fasih ataupun sekedar fasih, atau berbeda sedikit tetapi tidak
mempengaruhi maknanya. Yang lebih dijadikan pegangan adalah qiraat yang telah
tersebar secara luas dan diterima para imam dengan sanad yang shahih. Sementara yang dimaksud dengan “sesuai dengan salah satu tulisan
pada mushaf Usmani” adalah sesuainya qiraat itu dengan tulisan pada salah satu
mushaf yang ditulis oleh panitia yang dibentuk oleh Usman bin ‘Affan dan
dikirimkannya ke kota-kota besar Islam pada masa itu. Mengenai maksud dari “shahih sanadnya” ini ulama berbeda pendapat.
Sebagian menganggap cukup dengan shahih saja, sebagian yang lain mensyaratkan
harus mutawatir.
D.
Macam –Macam Qira’ah
Dalam pembahasan
tentang macam-macam qira’at ini akan di jelaskan pendapat para Ulama’
mengenai hal ini diantaranya:
1.
Dalam kitab mahabis
fii’ ulumil Qur’an, prof. Dr . manna’ul Qatthan membagi jenis qira’at
menjadi:
a.
Pertama: Qira’ah
mutawatir, yaitu qira’ah yang periwayatannya melalui beberapa orang,
seperti Qira’ah sab’ah yang menurut jumhhur ulama’ Qira’ah sab’ah ini semua
riwatnya adalah mutawatir.. para imam yang termasuk dalam Qira’ah sab’ah
adalah: Nafi’ bin Abdurrahman (w.169 H.) di Madinah; Ashim bin Abi Najud
Al-asdy (w. 127 H.) di Kufah; Hamzah bin Habib At-Taymy (w. 158 H.) di Kufah; Ibnu
amir al- yahuby (w. 118 H.) di Syam; Abdullah Ibnu Katsir (w. 130 H.) di Makkah;
Abu Amer Ibnul Ala (w. 154 H) di Basrah dan Abu Ali Al- Kisa’i (w. 189 H) di
Kufah
b.
Kedua : Qiroat Ahad,
yaitu qiro’at yang sanatnya soheh tetapi tulisannya tidak cocok dengan tulisan
mushap usmani yang juga tidak selaras dengan kaidah bahasa arab. Qiro’at ini
tidak boleh untuk membaca al-qur’an.
c.
Ketiga : Qiro’at Syadz,
yaitu qiro’at yang sanatnya tidak soheh, seperti bacaan dengan bentuk fi’il
madi yang berasa dari bacaaan ibnu sumaifai.
2.
Dalam kitab Zubdah
Al- Itqon Fii Ulumil Qur’an Karya Dr. Muhammad bin Alwi
Al-Maliki bahwa imam Al-Jaziri mengelompokkan Qiro’at dalam lima bagian, yaitu:
a.
Qiro’ah Mutawatir, yakni Qiro’at yang
disampaikan oleh sekelompok orang mulai dari awal sampai sanad, yang tidak
mungkin bersepakat untuk berdusta. Dengan kata lain, Qira’at
Mutawatir adalah Qira’atyang diriwayatkan oleh orang banyak dari banyak orang
yang tidak mungkin terjadi kesepakatan diantara mereka untuk berbuat
kebohongan. Contoh untuk Qira’atmutawatir ini
ialah Qira’atyang telah disepakati jalan perawiannya dari imam Qiraat Sab’ah
b.
Qiroa’at Masyhur, yaitu qiro’ah
yang memiliki sanad sohih, tetapi tidak sampai pada kualitas mutawatir, sesuai
dengan kaidah bahasa Arab dan tulisan mushaf Usmani, masyhur di kalangan ahli qiro’ah
dan tidak termasuk qiro’ah yang keliru dan menyimpang. Misalnya qiro’at
dari imam yang tujuh yang disampaikan melalui jalur berbeda-beda. Sebagian
perawi misalnya meriwayatkan dari Imam Tujuh , sementara yang lainnya tidak.
Qiro’at semacam ini banyak di jumpai kitab-kitab Qiro’ah misalnya At-taisir
karya Ad-dani, Qashidah karya As-Syatibi, Au’iyyah Annasr Fi Qiro’ah
Al-Asyr dan Taqrib An-Nasyr, keduanya karya Ibnu Al-Jaziri.
Selain itu, Qira’atMasyhur
adalah Qira’atyang sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah SAW.
diriwayatkan oleh beberapa orang yang adil dan kuat hafalannya, serta
Qira’at-nya sesuai dengan salah satu rasam Usmani; baik Qira’at itu dari para
imam Qira’at sab’ah, atau imam Qiraat’asyarah ataupun imam-imam lain yang dapat
diterima Qira’at-nya dan dikenal di kalangan ahli Qira’atbahwa Qira’at itu
tidak salah dan tidak syadz, hanya saja derajatnya tidak sampai kepada derajat
Mutawatir. Misalnya ialah Qira’atyang diperselisihkan perawiannya dari imam
Qira’atSab’ah, dimana sebagian ulama mengatakan bahwa Qira’atitu dirawikan dari
salah satu imam Qira’atSab’ah dan sebagian lagi mengatakan bukan dari mereka.
c.
Qira’at Ahad, yaitu qira’ah yang
memiliki sanad sohih, tetapi menyalahi tulisan mushaf Usmani, dan kaidah bahasa
Arab, tidak masyhur. Atau, Qira’at Ahad adalah qiraat yang sanadnya bersih dari cacat tetapi
menyalahi rasam Utsamani dan tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Juga tidak
terkenal di kalangan imam qiraat. Qira’at Ahad ini tidak boleh dipakai untuk
membaca al-Qur’an dan tidak wajib meyakininya sebagai al-Qur’an. Seperti riwayat dari Al-Hakim Al-Jahdiri dari Abu Bakrah yang menyebutkan
bahwa Nabi saw. Membaca ayat:
متكئين عاي رفارف خضر وعباقري حسان
Dari Abu Hurairah, Al-Hakim meriwayatkan bahwa Nabi saw. Membaca:
فلا تعلم نفس ما اخفي لهم من قرات اعين
Juga dari Abu Hurairoh, Al-Hakim meriwatkan bahwa Nabi saw membaca:
لقد جاءكم رسول من انفسكم
(Huruf fa’ dibaca dlommah: anfasikum)
Dari ‘Aisyah, Alhakim meriwayatkan bahwa Nabi saw. Membaca:
فروح وريحا ن
(huruf fa’ di baca dlommah: faruuhun)
d. Qiro’ah syadz, yaitu qiro’ah yang sanadnya tidak sohih. Contoh:ملك يوم الدين (di baca malaka yauma). Qira’at Syazah
adalah Qira’atyang cacat sanadnya dan tidak bersambung sampai kepada Rasulullah
SAW. Hukum Qiraat Syazah ini tidak boleh dibaca di dalam maupun di luar sholat.
e. Qira’ah maudlu’ (palsu) seperti qira’ah Al-Khazza’I dengankata lain, Qira’at Maudu’
adalah Qira’atyang dibuat-buat dan disandarkan kepada seseorang tanpa mempunyai
dasar periwayatan sama sekali.
3. Imam Suyuthi menambah jenis qira’ah yng keenam, yaitu yang menyerupai hadits Mudroj, yaitu adanya sisipan pada baca’an dengan
tujuh penafsiran seperti qiro’ah Abi Waqqash yang berbunyi: وله اخ او اخت من
ام Juga sperti qiro’ah Ibnu Abbas yang berbunyi: ليس عليكم جناح ان تبتعوا فضلا من ربكم في موسم الحج
4.
Sedang menurut Prof.
Dr.H. Abdul Djalal HA.dalam bukunay ulumul qur’an membagi qiroat
beberapa kritria, yaitu:
a.
Qiro’ah ditinjau dari
segi para pembacanya ( qurrok ):
1.
Qiro’ah Sab’ah yang disandarkan pada
Imam Tujuh ahli qira’a, yaitu qira’ah yang telah disebutkan diatas. Ada
dua alasan kenapa di sebut qira’ah sab’ah: Pertama: ketika
kholifah Utsman menirim ke berbagai daerah itu berjumlah tujuh buah yang
masing-masing disertai dengan ahli qira’ah yang mengajarkan. Nama Sab’ah
berasal dari jumlah qurro’ yang mengajarkan yaitu Sab’ah (tujuh). Dan Kedua:
tujuh qira’ah itu adalah qira’at yang sama dengan tujuh cara (dialek)
bacaan diturunkannya Al-qur’an. Dua pendapat diatas di sampaikan oleh Prof. Dr.
H. Abdul Djalal H.A. yang mengutip dari pendapat Imam Al-Maliki.
2.
Qir’ah Asyrah: qira’ah yang di
sandarkan kepada sepuluh orang ahli qra’ah, yaitu tujuh orang yang sudah
tersebut dalam qira’ah sab’ah di tambah dengan tiga orang, yaitu:
a)
Abu Ja’far Yazid Ibnul
Qa’qa Al-qari (w. 130 H.) di Madinah
b)
Abu Muhammad Ya’ Qub
bin Ishaal-Hadhary (w. 205 H.) di Basrah
c)
Abu Muhammad Kholf bin
Hisyam Al-A’masyy (w. 229 H.)
Menurut sebagian ulama’, pembatasan terhadap tujuh ahli qira’at kurang
tepat, karna masih banyak orang (ulama’) lain yang juga mamahami dan pandai
tentang qira’at.
3.
Qira’ah Arba’a Asyrata: yaitu qira’ah yang di
sandarkan kepada 14 ahli qira’ah yang megajarkannya, sepuluh ahli qira’ah yang
telah di tulis di tambah dengan empat orang, yaitu:
a.
Hasan Al-Bashri (w. 110
H.) di Basrah
b.
Ibnu Muhaish (w. 123
H.)
c.
Yahya Ibnu Mubarok Al-
Yazidy (w. 202 H.) di Baghdad
d.
Abu Faroj Ibnul Ahmad
Asy-Syambudzy (w. 388 H.) di Baghdad
b.
Ditinjau dari Para Perawi Qira’at dilihat dari
perawinya di bagi menjadi enam kelompok yang sudah di jelaskan pembagiannya
pada pembahasan yang terdahulu, yaitu qira’ah mutawatiroh, Qira’ah Masyhurah,
Qira’ah Ahad, Qira’ah Syadz, Qira’ah maudlu’ dan Qira’ah Mudroj.
1. Qira’ah Mudroj yaitu Qira’at yang ditambah dengan kalimat lain
yang merupakan tafsirnya.
2. Qira’ah Syaz yaitu Qira’at yang tidak mempunyai salah satu dari rukun yang tiga.
c.
Ditinjau dari segi nama
jenis Sebagian ulama’ berpendapat bahwa jika qira’ah itu ditinjau dari sisi nama
jenis, maka qira’ah itu di bagi menjadi:
1.
Qira’ah, yaitu untuk
nama bacaan yan telah memenuhi tiga syarat sebagaimana penjelasan di atas,
seperti Qira’ah Sab’ah, Qira’ah Asyrah dan Qira’ah Arba’a Asyrata.
2.
Riwayat, nama
bacaan yang hanya berasal dari salah sorang perawinya sendiri.
3.
Thariq, yaitu nama
untuk bacaan yang sanadnya terdiri dari orang-orang yang sesudah para
perawinya sendiri.
4.
Wajah, yaitu nama untuk
bacaan Al-qur’an yang tidak di dasarkan sifat-sifat tersebut di atas, melainkan
berdasarkan pilihan pembacanya sendiri..
E.
Syarat di Terimanya
Qira’ah
Dengan banyaknya
periwayatan dalam qira’ah, maka ada beberapa syarat, agar qira’ah tersebut
shahih dan dapat di baca oleh umat. Syarat – syarat itu adalah:
1.
Qira’ah tersebut harus
sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa arab,
2.
Sanad dari riwayat yang
menceritakan qira’ah-qira’ah tersebut haru shahih,
3.
Bacaan yang di terapkan
adalah bacan yang cocok dengn salah satu mushaf Utsmani.
Oleh sebab itu maka
qira’ah yang shahih harus memenuhi syarat-syarat di atas, meskipun diriwayatkan
kurang dari tujuh oang perawi Al-qur’an. Dengan pengertin lain, bahwa apabila
sebuah qira’ah sudah memenuhi persyaratan tersebut diatas, maka qira’at
tersebut dinyatkan Shahih yang harus di imani dan tidak bole di pungkiri
keberadaannya. Berdasarkan persyaratan tersebut, maka setiap qira’at yang sudah
terpenuh tiga hal di atas , maka dikatakan qira’ah shahih, baik berasal dari
Qira’ah Sab’ah, Qir’ah Asyrah Ataupun Qira’ah Arba’a Asyrata. Prof. Dr. H.A.
Djalal juga menegaskan bahwa menurut Al-kawassy, semua qira’ah yang shahih
sanadnya, selaras dengan kaidah bahasa arab, dan sesuai dengan salah satu
mushaf Utsmani, itu adalah termasuk qira’ah sab’ah yang dinash dalam
hadits Nabi Muhammad saw.
F.
Metode Penyampaian
Qira’ah
Menurut Dr. Muhammad
bin alawial-maliki dalam bukunya berjudul zubdah al-itqan fi ulumil qur’an mengatakan,
bahwa di kalanga ahli hadits ada beberapa periwayatan atau penyampaian qira’ah
di antaranya:
1.
Mendengr langsung dari
guru (al-sima’)
2.
Membacakan teks atau
hafalan di depan guru (al-qira’ah `ala al-syaikh)
3.
Melalui ijazah dari guru
kepada murid
4.
Guru memberikan sebuh
naskah asli kepada muridnya atau salinan yang di koreksinya untuk di
riwayatkan(al-munalah)
5.
Guru menuliskan sesuatu
untuk di berikan di berikan kepada muridnya(mukatabah)
6.
Wasiat dari guru kepada
para murid-muridnya
7.
Peberitahuan tentang
qira’ah tertentu(al-I’lam)
8.
Hasil temuan
(al-wijadah)
Para imam qira’ah, baik salaf maupun kholafmeriwayatkan lebih banyak
menggunakan metode qira’ah `al al-syaikh. Metode ini juga di gunakan oleh nabi
saw. Ketika beliau menyodorkan bacaan al-qur’an di hadapan jibril pada seiap
bulan ramadhan. Adapun al-sima’tidak di gunakan oleh para imam qira’ah dengan
beberapa alasan: Pertama: karna yang mendengar langsung dari nabi
hanyalah para sahabat. sedang mayoritas para imam qir’ah tidak pernah mendengarkan
secara langsung dari nabi saw. Dan Kedua: setiap murid yang mendengar langsung dari gurunya tidak mampu
secara persis meriwayatkan apayang telah di dapat dari gurunya. Sedang para
sahabat dengan kulitas kefasihan yng baik, mereka mampu menyampaikan al- qur’an
sama persis seperti ynag mereka dengarkan dari nabi.
G.
Manfaat Dari
Keberagaman Qira’at
Meringankan numat islam dan memudahkan mereka untuk membaca
al-quran,Menunjukkan betapa terjaganya dan terpeliharanya al-quran dari
perubahan dan penyimpangan, Dapat menjelaskan hal2 mungkin masaih samar dalam
qiraat yang lain, Bukti kemukjizatan al quran dari segi kepadatan maknanya, karenasetiap qiraat menunjukkan
suatu hukum syara’ trtentu tanpa perlu ada pngulangan lafaz Meluruskan aqidah
sebagian orang yang salah,menunjukkan keutamaan
dan kemuliaan umat Muhammad saw atas umat2 pendahulunya.; Menunjukkan kemurnian
al qur’an; Mempermudah mempelajari al-qur’an; Menunjukkan keagungan dan kemukjisatan al-qur’an.
H.
Pembagian Para Imam Qiro’at Menurut Tingkatan
Berikut ini
adalah pembagian tingkatan qiraat para imam qiraat berdasarkan kemutawatiran
qiraat tersebut, para ulama telah membaginya ke dalam 3 (tiga) kategori, yaitu
1.
Qira’at yanng telah disepakati kemutawatirannya tanpa ada perbedaan
pendapat di antara para ahli Qira’atyaitu para imam Qira’atyang tujuh orang
(Qira’atSab’ah)
2.
Qira’at yang
diperselisihkan oleh para ahli Qira’at tentang kemutawatirannya, namun menurut
pendapat yang shahih dan masyhur qiraat tersebut mutawatir, yaitu Qira’atpara
imam Qira’atyang tiga; imam Abu Ja’far, Imam Ya’kub dan Imam Khalaf.
3.
Qira’at yang
disepakati ketidak mutawatirannya (Qira’atsyaz) yaitu Qira’atselain dari
Qira’atpara imam yang sepuluh (Qira’at‘Asyarah).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar